Minggu, 15 November 2015

makalah orang

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Dewasa ini banyak kejadian dalam kehidupan masyarakat yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan. Akibat dari krisis ekonomi yang berkepanjangan, yang hingga sekarang belum ada ujungnya. Banyak terdapat kaum dhu’afa yang membutuhkan uluran tangan dari semua yang berada di kalangan atas. Dhu’afa sendiri merupakan sebuah kelompok manusia yang dianggap lemah atau mereka yang tertindas.
Kaum dhuafa adalah golongan manusia yang hidup dalam kemiskinan, kesengsaraan, kelemahan, ketakberdayaan, ketertindasan, dan penderitaan yang tiada putus. Hidup mereka yang seperti itu bukan terjadi dengan sendirinya tanpa adanya faktor yang menjadi penyebab. Adanya kaum dhuafa telah menjadi realitas dalam sejarah kemanusiaan.
Asal mula kaum dhuafa : adalah mereka yang tak bisa hijrah karena terhalang kafir mekkah (tertindas)
Dari segi ekonomi : adalah mereka yang fakir dan miskin (tertekan keadaan) bukan malas.
Dari segi Fisik : adalah mereka yang kurang tenaga (bukan karena malas)
Dari segi Otak : adalah mereka yang stupid (bukan karena malas)
Dari segi Sikap : adalah mereka yang terbelakanag (bukan karena malas)

Kaum dhuafa terlahir dari kekerasan negara. Kaum dhuafa terdiri dari orang-orang yang terlantar , fakir miskin, anak-anak yatim dan orang cacat. Kaum dhuafa ialah orang-orang yang menderita hidupnya secara sistemik. Pada kaum dhuafa setiap hari berjuang melawan kemiskinan. Kaum dhuafa korban dari kenaikan harga BBM, dan barang-barang kebutuhan lainnya. Kaum dhuafa cerminan ketidakmampuan negara dalam ememlihara mereka. Para dhuafa secara sendirian harus berjuang melawan sistem kapitalisme. Kaum dhuafa ialah orang-orang miskin di jalanan, di pinggiran dan di sudur=t-sudut lingkunan kumuh. Mereka bekerja sebagai pemulung, para pedagang asongan, pengemis jalanan, buruh bangunan dan abang becak. Mereka ini kelompok masyarakat yang mudah terkena penyakit menular, seperti demam berdarah, malaria dan kusta, dan segudang eksengsaraan. Lantas, apa yang harus di lakukan ?
Kaum dhu’afa terdiri dari orang-orang yang terlantar, fakir miskin, anak-anak yatim dan orang cacat. Kaum dhu’afa merupakan orang yang menderita secara sistematik. Para dhu’afa setiap hari berjuang melawan kemiskinan. Para dhu’afa secara sendirian berjuang melawan sistem kapitalisme. Kaum dhu’afa bekerja sebagai pemulung, para pedagang asongan, pengemis jalanan, buruh bangunan dan abang becak.
Dalam sebuah hadist di sebutkan “Barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya tidak menyakiti tetangganya” Dalam hadist lagi di terangkan, seorang bertanya kepada Nabi SAW , “Islam yang bagaimana yang baik ? “ Nabi SAW menjawab , “Membagi makanan (kepada fakir miskin) dan memberi salam kepada yang dia kenal dan yang tidak dikenalnya.” (HR.Bukhari), dan lagi Perumpamaan orang-orang yang bariman di dalam saling cinta kasih dan belas kasih seperti satu tubuh. Apabila kepala mengeluh (pusing) maka seluruh tubuh tidak bisa tidur dan demam. (HR. Muslim). Dengan latar belajang tersebut kami disini menyunguhkan tentang bagaimana menanggapi masalah menyantuni kaum dhuafa, sehingga atas dorongan lingkungan sekitar terwujudlah apa yang ada di tangan anda ini, semoga ada manfaat dan gunanya.
1.2  Fokus Penelitian
1. Apa pengertian kaum dhuafa ?
2. Bagaimana cara menghormati dan memuliakan serta menyantuni kaum dhuafa ?
3. Apakah yang dimaksud dengan menyantuni ?
4. Apakah yang dimaksud menyantuni menurut agama Islam ?
5. Apakah yang dimaksud dengan agama adalah pedoman tata sosial manusia ?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Menjelaskan pengertian kaum dhuafa
2. Memahami pentingnya menghormati dan memuliakan serta menyantuni kaum dhuafa
3.  Untuk mengetahui pengertian menyantuni
4.  Untuk mengetahui menyantuni menurut agama Islam
5.  Untuk mengetahui bahwa agama adalah pedoman tata sosial manusia
1.4 Manfaat Penelitian
1. Lebih memahami tentang kaum dhuafa
2. Lebih menghormati dan memuliakan serta menyantuni kaum dhuafa
3. Mengetahui pengertian menyantuni
4. Mengetahui menyantuni menurut agama Islam
5. Mengetahui bahwa agama adalah pedoman tata sosial manusia



























BAB II
KAJIAN PUSTAKA
17_26.pngBerikut ini adalah terjemahan dari surat Al-Isra ayat 26-27 dalam memahami kaum dhuafa.

17_27.png
 




(26) Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
(27) Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.
A.       Asbabun Nuzul
Surah Al Isra dikenal juga dengan nama Surah Bani Israil yang termasuk golongan surat Makiyah. Pada ayat 26-27 ini mempunyai asbanun nuzul yang diriwayatkan oleh At Thabrani yang bersumber dari Abu Sa`id Al Khudri dan dalam riwayat lain oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika turun ayat ini, Rasulullah saw, memberikan tanah di Fadak ( tanah yang diperoleh Rasulullah dari pembagian ganimah atau rampasan perang ) kepada Fatimah.
B.      Kandungan
a.      Secara umum ayat tersebut berhubungan dengan hubungan antara manusia dalam hal   memanfaatkan dan menggunakan harta yang dimiliki
b.      Orang yang diberi nafkah atau harta hendaklah memperhatikan dari oarng yang paling dekat seperti; keluarga atau kaum kerabat, orang-orang miskin, orang yang dalam perjalanan.
c.       Larangan untuk tidak berlaku boros dalam membelanjakan hartanya atau menghambur-hamburkan harta
d.      Perbuatan boros adalah sifat syaitaniyah yang harus ditinggalkan, dan syaitan itu adalah makhluk yang selalu ingkar kepada Allah


2)      ARTI DARI MENYANTUNI KAUM DHUAFA
              Maksud dari menyantuni kaum duafa ialah memberikan harta atau barang yang bermanfaat untuk duafa, kaum duafa sendiri ialah orang yang lemah dari bahasa Arab (duafa) atau orang yang tidak punya apa-apa, dan mereka harus disantuni bagi kewajiban muslim untuk saling memberi, itu sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt perlu digaris bawahi, bahwa “memberi” tidak harus uang malah kita berikan makanan bisa tapi nanti ibadahnya akan mengalir terus seperti halnya infak dan kalau sudah diberi akan jadi tanggung jawab orang miskin itu, misal saja barang yang diberikan digunakan untuk beribadah kepada Allah atau hal positif lainnya akan terkena pahala yang sama, ketika Dia gunakan tadi, sebaliknya degan digunakan mencopet atau judi kita tidak akan mendapat pahala buruk dari orang miskin itu insya Allah pahalanya tidak akan berkurang setelah memberi kepada orang miskin itu gunakan.
Dan menurut para ulama menyantuni kaum duafa akan menyelamatkan diri kita dari api neraka, tapi sekarang banyak manusia yang segan megeluarkan hartanya untuk berinfak pada kaum duafa, tapi ada juga yang selalu membantu kaum dhuafa itu, bukan saja yang berarti duafa pada orang miskin juga bisa pada misalnya ; panti asuahan, membangun masjid, kepada diri sendiri, anak yang putus sekolah biayai pendidikannya sampai tingkat SMA , dan keluarga dekat serta orang yang sedang perjalanan, ini sama dijelaskanpada surat Al-isra’ ayat 26-27.
Untuk anak yatim, Islam memerintahkan kita untuk  :
1.       Memeliharanya
2.       Memuliakannya
3.       Tidak boleh berlaku sewenang-wenang
4.       Menjaga hartanya ( kalau ada), sampai anak yatim tersebut dewasa, mandiri dan bisa mengurus hartanya
Untuk fakir miskin, kita harus menganjurkan orang untuk memberi makan. Kalau tidak, bahaya, cap kita adalah pendusta agama karena  Fakir miskin juga termasuk kedalam golongan yang berhak menerima zakat.

3)      PERINTAH MENYANTUNI KAUM DHUAFA
Dalam surah Al-Isra’ Ayat 26-27
Artinya :
26. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
Kandungan Surah Al-Isra’ Ayat 26-27
Pada ayat 26, dijelaskan bahwa selain berbakti, berkhidmat, dan menanamkan kasih sayang, cinta, dan rahmat kepada orang tua, ita pun hendaknya memberi bantuan kepada kaum keluarga yang dekat karena mereka paling utama dan berhak untuk ditolong.
Allah memrintahkan manusia untuk berbakti dan berbuat baik tidak hanya kepada orang tua saja, namun masih harus berbuat baik kepada tiga golongan lain,yaitu:
a. Kepada kaum kerabat
b. Kepada orang miskin
c. Kepada orang terlantar
Pada ayat 27, Allah mengingatkan bahwa betapa buruknya sifat orang yang boros. Mereka dikatakan sebagai saudara setan karena suka mengikuti dan sanagt penurut kepadanya. Orang yang boros bermakna orang yang membelanjakan hartanya dalam perkara yang tidak mengandung ketaatan.




4)      KEPEDULIAN DAN UPAYA MENINGKATKAN EKONOMI KAUM DHUAFA’
a.      Kepedulian terhadap kaum dhuafa
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik   anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin." (QS. 107 : 1-3). 
Rasulullah SAW bersabda : "Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain. Siapa saja yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesusahan dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya pada Hari Kiamat." (HR. Muttafaq 'alaih).
Saat ini sangat banyak kejadian dalam kehidupan masyarakat yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan kita. Akibat krisis ekoomi yang berkepanjangan, yang belum ada ujungnya.
Ayat Allah atas mengancam kita yang tidak memperhatikan kehidupan kaum dhuafa tersebut.
Kemiskinan yang mendera masyarakat selama ini memunculkan banyak kaum dhuafa (kaum lemah) dan kaum mustadhafin (kaum tertindas), seperti kaum miskin, fakir, perempuan, orang yang terlilit hutang, anak yatim, dan lain-lain. Namun, tidak menutup kemungkinan yang menjadi kaum mustadhafin adalah orang kaya. Islam yang memiliki konsep “ideologi pembebasan” sejatinya adalah agama yang ingin membela kaum-kaum tersebut. Ini terlihat dalam ajaran-ajaran yang diwahyukan kepada Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, baik dalam Al Qur’an maupun hadist. Rasulullah, dalam banyak hadist, bahkan semasa hidupnya sangat dekat dengan mereka. Beliau memilih hidup seperti mereka, seperti dengan hidup sederhana. Akan tetapi, dalam kepemimpinan Islam, profil Rosulullah yang begitu mencintai kaum dhuafa dan mustadhafin semakin kurang diteladani oleh para pemimpin Islam dewasa ini.
b.      Upaya meningkatkan ekonomi Kaum Dhuafa’
Jika kita bicara dalam konteks ukhwah Islamiyah maka hal ini akan lebih bermakna. Ukhwah Islamiyah sendiri bisa didefinisikan sebagai rasa persaudaraan yang dilandasi persaman aqidah dan keyakinan. Pengertian ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam al Qur'an :
إنَّمَـاالـْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ
”Hanyalah orang-orang beriman itu bersaudara”
Maka segala perbuatan sosial yang berkaitan dengan kemasyarakatan yang kita lakukan hendaklah mengutamakan saudara kita. Sehingga bisa diharapkan, kita menjadi ummat yang unggul baik secara aqidah, ekonomi, pertahanan dan lain sebagainya. Dari sinilah loyalitas kita terhadap ajaran agama menjadi tampak. Rasulullah SAW bersabda:
”Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu, sehingga dia mencintai Saudaranya sama seperti mencintai dirinya sendiri”
Hadits ini mengaitkan antara kesempurnaan iman dengan kecintaan terhadap sesama muslim. Bukan hanya sekedar ucapan cinta, tapi yang lebih utama adalah pembuktian rasa cinta itu dalam kehidupan. Misalnya dengan membantu meringankan beban hidup mereka. Kepedulian kepada sesama muslim ini menjadi barometer sejauh mana kesempurnaan iman seorang muslim. Semakin peduli dia terhadap saudaranya, sejauh itu pula kesempurnaan imannya. inilah yang ingin diajarkan al habib Hasan Baharun kepada semua muridnya.
selayaknya kita merasakan suka dan duka bersama kaum dhuafa’. Agama memberikan isyarat sangat jelas untuk mengeluarkan zakat fitrah kepada kaum dhuafa’. Zakat adalah perintah untuk mensucikan diri yang dibagikan kepada orang-orang yang lemah. Mereka merupakan orang-orang yang tertindas yang memerlukan pertolongan manusia yang lainnya. Membiarkan mereka dalam penderitaan, berarti menyia-nyiakan agama. Kehadiran agama Islam adalah untuk memberikan keselamatan kepada seluruh alam, terutama bagi orang miskin yang membutuhkan uluran tangan-tangan manusia yang lain. Mereka seharusnya dikasihani dan dilindungi hak-haknya. Kaum dhuafa’ merupakan bentuk ketidak-adilan sistem yang patriarkhal. Sistem dominasi melanggar hak-hak hidup orang lain. Misalnya, hak memperoleh makan dan minum serta pekerjaan layak. Para kaum dhuafa’ tidak memperoleh hak tersebut karena uang untuk mereka dikorup, dirampas oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Orang miskin semenjak dulu kala kehidupannya dililit oleh kemiskinan. Miskin segala hal. Miskin pengetahuan dan kesempatan melakukan perubahan. Miskin pendidikan yang mampu merubah keadaan hidupnya. Akibatnya, hidup mereka secara turun temurun berada dalam lingkaran kemiskinan. Sementara itu orang-oramg yang memiliki kekuasaan, sebagian menjadi sangat serakah dan tidak memberikan kesempatan yang sama.
Kaum dhuafa’ disebut oleh Nabi Muhammad sebagai orang-orang yang sangat dekat dengan Nabi kelak di akhirat. Hidup mereka lebih berharga dan tehormat dari pada mereka yang makan uang rakyat. Doa orang-orang mustadh'afin (orang yang terlemahkan) akan cepat dikabulkan oleh Allah SWT. Bahkan Nabi Muhammmad bersabda, bahwa kelak Nabi akan bersama kaum dhuafa’ di akhirat. Maka sudah selayaknya, sebagai ummat Muhammad SAW untuk membela kepentingan para dhuafa’, berjuang memperoleh hak hidup yang layak. Hak hidup yang adil dalam memperoleh makan dan minum serta lapangan pekerjaan. Hampir semua agama mengajarkan kemanusiaan untuk memperhatikan kaum ini. Demikian juga Nabi Muhammad sebagai bapak anak-anak yatim. Nabi sangat menolong kaum fakir miskin. Nabi menyebutkan, bahwa antara dirinya dengan anak-anak yatim seperti jari telunjuk dengan jari tengah.
Sesungguhnya do’a kaum dhuafa’ sangat mustajab Apabila kaum dhuafa’ dibiarkan menderita, maka bangsa ini akan mendapatkan generasi-generasi lemah dan tidak berdaya. Apabila generasi itu lemah, tentu bangsa ini akan rapuh dan gagal. Bangsa lemah, akan mudah musuh-musuh menyerang dan merongrong bangsa.
Lalu bagaimana agar bangsa ini menjadi kuat? Pertama, ialah memberdayakan kaum dhuafa’. Semakin kaum dhuafa’ dipelihara dan dilindungi, mereka bangkit dengan sendirinya mengubah hidupnya. Sebaliknya, membiarkan dan mendiamkan kaum dhuafa’ di jalanan dan terlantar memunculkan ragam kekerasan. Misalnya, orang-orang miskin yang lari dari kehidupan normal kepada kehidupan tidak normal, seperti pencandu narkoba, minuman-minuman keras, dan pecandu seksual yang tidak halal. Realitas ini menimbulkan banyak penyakit sosial seperti kejahatan, kriminal dan bunuh diri. Misalnya, setiap hari rata-rata lima orang yang ditembak karena melakukan pencurian, apabila dibiarkan maka tindak pencurian akan meningkat seiring kemiskinan yang nyata. Apabila orang-orang tersebut dibina, dirawat dan diberikan mata pencaharian dan semangat hidupnya bangkit, maka perlahan mereka akan menjalani hidup normal kembali. Hadis Nabi menyebutkan, bahwa sesungguhnya kefakiran mempercepat pada kekufuran.
Bagaimana caranya agar kaum duafa’ mampu bangkit? Kedua, yaitu dengan menjalin kerjasama lintas agama, etnik dan budaya. Secara faktual, bangsa Indonesia terdiri dari beragam agama yang mampu bekerjasama dengan baik. Menafikan kekuatan agama lain, mengakibatkan kerjasama berkurang dan tidak efektif. Caranya dengan saling menghargai dari berbagai agama, dan kelompok profesional dalam melakukan pemberdayaan kepada para duafa’. penghargaan itu terwujud apabila adanya kerukunan antar ummat beragama. Kerukunan antar ummat beragama relevan untuk mengusung isue kepedulian kepada kaum dhuafa’.
Ketiga, membangkitkan semangat kerja keras bagi generasi muda dan anak-anak. Kehidupan adalah milik masa depan. Masa depan tersebut sangat bergantung dari keadaan generasi mudanya. Generasi muda dibentuk oleh masa anak-anak. Apabila anak-anak sudah kuat karakter hidupnya untuk bersemangat dan kerja keras, tentu mereka akan gigih melawan kemiskinan. Sebaliknya, meninggalkan generasi dan anak-anak yang lemah, bencana bagi bangsa ini dimasa mendatang. Semenjak kecil, anak-anak dilatih untuk menghadapi kesulitan demi kesulitan agar tangguh. Mengapa sejak kecil harus dilatih? karena kecakapan seseorang yang paling berpengaruh didasarkan pada penguasaan pengalaman mereka. Jika semenjak kecil, anak-anak dibiasakan untuk berlatih kerja keras dan mandiri serta bertanggung jawab, maka akan menjadi orang yang kuat menghadapi permasalahan hidupnya. Apabila anak dibiasakan menadahkan tangan dan meminta-meminta, maka akan tertanam di benaknya untuk hidup dari pemberian dan belas kasihan orang lain. Pengalaman mereka itulah yang akan banyak menuntun mereka membaca kehidupannya kelak dimasa mendatang. IroniSnya, banyak kalangan dhuafa’ yang menjadikan anak-anak mereka sebagai pengais rezeki, seperti penjualan anak-anak dan kerja-kerja jalanan saat masih dibawah umur. Menerjunkan anak pada kerja-kerja eksploitatif, menyebabkan kemiskinan sistemis menghegemonik mereka. Untuk itulah, kesadaran mendidikan anak menjadi rajin belajar, kerja keras merupakan bentuk keluar dari mata rantai kemiskinan.

5)      PENERAPAN SIKAP DAN PERILAKU SURAH AL-ISRA AYAT 26-27.
Pencerminan terhadap Surah Al Isra ayat 26-27 dapat melahirkan perilaku,antara lain sebagai berikut :
1. Bekerja dengan tekun untuk mencari nafkah demi keluarga.
2. Suka menabung dan tidak pernah berlaku boros meskipun memiliki banyak harta.
3. Menjauhi segala macam kegiatan yang sia-sia dan menghabiskan waktu percuma.
4. Suka bersedekah, khusunya terhadap orang yang kekurangan dimulai dari keluarga dan tetangga terdekat.
5. Mempelajari ilmu agama dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.





















BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Teknik Penelitian
            Jenis metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode jenis deskriptif, yaitu metode dalam penelitian suatu kasus dengan cara mengumpulkan data sebagai gambaran keadaan objek yang diteliti berdasarkan dengan fakta-fakta yang ada.
            Pada hari sabtu,23 Nopember 2013 saya mengunjungi rumah Bu Sugiati yang tepatnya di sekitar tempat tinggal saya di Desa Nguling Kabupaten Pasuruan yang sebelumnya saya sudah meminta izin kepada warga di desa saya dengan niat saya bersilaturahmi. Setelah silang waktu saya mendokumentasikan kebersamaan saya dengan Bu Sugiati dengan bermaksud mempererat silaturahmi sesama manusia.
Dalam pelaksanaan penelitian ini meskipun ada beberapa masalah yang timbul namun pada akhirnya dapat diselesaikan dan dapat diatasi dengan baik, sehingga berjalannya kegiatan ini pun juga berjalan dengan lancar. Antusiasme dan sambutan yang baik dari masyarakat desa Semut dapat menjadi salah satu parameter kelancaran kegiatan saya. saya merasa cukup puas dengan hasil yang saya dapatkan, karena saya tidak menilai sebuah pemberian secara kuantitas namun secara kualitas. Dan yang terpenting bahwa saya sudah melaksanakan amanah yang telah diamanahkan dengan sebaik-baiknya.
3.2 Analisi Data
            Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya,….(Al Baqarah :177)
Keberpihakan Islam ini bukan sebatas pada aktivitas yang memecahkan berbagai masalah sosial dan kemanusian kaum dhuafa, melainkan lebih dari itu adalah bagaimana menyelamatkan mereka dari bahaya kesesatan dan kekafiran, kemudian membawa mereka menuju keselamatan, kedamaian, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Konsep ini jelas berbeda dengan konsep yang dimiliki oleh kaum sekuler atau sosialis yang melakukan keberpihakan kepada kaum dhuafa hanya sebatas pada penyelesaian masalah kebutuhan sosial dan kemanusiaan yang bersifat duniawi.
Allah SWT dalam Al Qur’an telah menjelaskan pula mengenai orang-orang yang tergolong  dhu’afa, mereka antara lain; anak-anak yatim; orang-orang miskin;ibnussabil (musafir); orang yang meminta-minta; hamba sahaya (al-Baqarah; 177); tunanetra;orang cacat fisik;orang sakit (an Nuur:61); manusia lanjut usia (al Israa’: 23); janda miskin (al Baqarah: 240); orang yang berpenyakit sopak (lepra) (Ali Imran: 49); tahanan atau tawanan (al Insan: 78); mualaf (orang yang baru memeluk Islam, orang-orang fakir; orang-orang yang berutang (gharimin); orang yang berjuang di jalan Allah (fii Sabilillah) (at Taubah:60); buruh atau pekerja kasar (ath Thalaq:6);nelayan (al Kahfi:79); rakyat kecil yang tertindas (an Nisaa’:75);anak-anak kecil dan bayi (al An’aam:140)
Allah SWT dalam Al Qur’an telah memerintahkan kepada umatNya agar berbuat baik kepada kaum dhu’afa. Salah satu ayatnya menyatakan,” dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin,”(Al Baqarah:83)
Perintah berbuat baik kepada mereka ini, antara lain, mengucapkan perkataan yang baik kepada mereka (an Nisaa’:8) memuliakan mereka (an Nisaa’:36) memelihara, mengasuh, dan mengurus mereka secara patut (an Nisaa’127); menggauli mereka sebagai suadara (al Baqarah:177); memberikan mereka nafkah (al Baqarah:215);memberikan mereka harta (al-Baqarah: 177); memberikan mereka makan (al-Insaan:8);memberi mereka sedekah (al Baqarah:272); memperbaiki tempat tinggal mereka dan meindungi harta mereka (al Kahfi:82); membela (an Nisaa’:75);melindungi mereka dari kezaliman (al Kahfi:79);mengobati mereka yang sakit(Ali Imran:49);mengajak mereka makan bersama (asy Syuara’:61);memberikan mereka pendidikan dan pengajaran yang baik (‘Abasa:1-11);memelihara mereka dengan penuh kasih sayang dan sopan santun (al Israa’23);memaafkan dan berlapang dada pada mereka (an Nuur:22); mengucapkan perkataan yang sopan (al Israa’:23);serta memberi nasihat dan mendakwahkan mereka (yusuf:30-41)
Allah SWT dalam Al Qur’an juga telah memerintahkan kepada umatNya agar memenuhi hak-hak kaum dhuafa. Diantaranya Allah SWT menyatakan,”dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”(al Israa’:26)
Adapun hak-hak kaum dhuafa adalah memperoleh zakat (at Taubah:60); infaq (al Baqarah:273); fidyah (denda bagi orang yang berat dalam berpuasa) (al Baqarah:184); harta warisan orang tua (an Nisaa’:5) ghanimah (harta rampasan perang (al Anfal:41)fa’i (harta rampasan daerah musuh) (al Hasyr:7); denda zihar (sanksi memandang isteri sebagai ibu kandung) (al Mujaadillah:2-4); kafarat sumpah (sanksi karena bersumpah palsu)(al An’aam:89); harta warisan orang lain (an Nisaa’:8); zakat hasil panen kebun atau pertanian (al An’aam:141); zakat hasil pengembakbiakan dan penjualan hewan (al An’aam:142); zakat emas dan perak (at Taubah: 34-35); upah pekerja (al Waaqi’ah;6); pendidikan dan pengajaran yang sama (‘Abasa:1-3);perlindungan hukum(al Kahfi:79 & 82);memberi daging kurban (al Hajj:34-35) dan jaminan sosial (at Taubah:60 dan 103).
Dalam al Qur’an juga terdapat beberapa larangan Allah SWT bagi kita terhadap kaum dhuafa, antara lain adalah menghardik mereka (al Maa’uun:1-2 dan adh Dhuhaa:10);membentak mereka (al Israa’:23) bertindak sewenang-wenang (zalim) pada mereka (adh Dhuhaa:9);mencampuradukkan dan memakan harta mereka secara tidak sah; menyerahkan harta kepada mereka yang belum sempurna akalnya;membelanjakan harta mereka secara tergesa-gesa;menukar harta mereka yang baik dengan yang buruk;ingkar janji dengan mereka (an Nisaa’:2-6);mendekati harta mereka (al Israa’:34 dan al An’aam:152);menelantarkan dan menjadikan mereka lemah (an Nisaa’:9);membuat mereka kelaparan (al Balad;14); menghina, merendahkan, memalingkan muka, bermuka masam, tidak mempedulikan, tidak melayani, tidak memperhatikan pembicaraan dan harapan mereka; tidak memberi pendidikan dan pengajaran yang baik kepada mereka;mengabaikan mereka (‘Abasa:1-10);tidak menghormati dan memuliakan (al Fajr:17-21);bersumpah tidak mau memberi makan dan menolong mereka (an Nuur:22);bakhil, kikir dan pelit kepada mereka (al Ma’aarij:19-25).
Dan diantaranya tandanya menyayangi kaum dhuafa adalah kita akan menyisihkan sedikit rejeki yang kita dapatkan buat mereka. sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberikan ‘modal’ berupa kesehatan sehingga kita bisa bekerja, lalu Allah pulalah yang telah mengaruniakan hasil yang baik dari pekerjaan kita ini. Penduduk Indonesia ini bejumlah kurang lebih 220 juta. Katakan saja umat Islam di Indonesia negeri kita tercinta ini berjumlah 150 juta jiwa. Kalau seandainya semua umat Islam di Indonesia mau menyisihkan 200 rupiah saja buat fakir miskin maka Indonesia telah mampu mengimpulkan uang 1,5 milyar dalam sehari. Bagaimana jika seminggu ? Setahun ? Tentunya akan banyak sekali jumlahnya. Dan kita memerlukan akan kepedulian terhadap dhuafa yang akan bisa mendorong dan membantu peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia. Kita harus bisa meneladani contoh Rasulullah dalam memberikan kasih sayangnya dan cintanya beliau kepada kaum dhuafa ini. Karena sebagai umat Rasulullah Muhammad Shallallahu a'alaihi wa sallam kita diharuskan menjalankan sunnah-sunnah beliau dalam mengaplikasikan kedalam kehidupan kita sehari-hari.

BAB IV
PAPARAN HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN
Zaman yang semakin maju dan modern, banyak kondisi masyarakat Indonesia yang masih lemah, dimana masih tingginya tingkat kemiskinan dan pengangguran. Diperlukan usaha semua pihak untuk dapat membantu sesama masyarakat Indonesia agar dapat bertahan dari kondisi saat ini. Selain itu ada banyak kaum dhuafa yang masih membutuhkan bantuan, baik berupa bantuan materil maupun moril. Oleh karena itu saya selaku mahasiswa yang sepatutnya membantu masyarakat khususnya yang memiliki kekurangan materil dan moril. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah melakukan penelitian dan memberikan sedikit bantuan kepada kaum dhuafa sebagai wujud kepedulian terhadap sesama ciptaan Allah SWT.
Pada kali ini saya melakukan kegiatan penelitian kaum dhuafa yang merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab saya untuk dapat memberikan manfaat terhadap kaum dhuafa. Kegiatan penelitian ini merupakan suatu bentuk bantuan yang walaupun tidak seberapa namun sangat berguna untuk membantu meringankan beban Bu Sugiati seorang dhuafa. Kegiatan penelitian ini saya lakukan untuk mengunjungi dan memberikan bantuan kepada kaum dhuafa. Yaitu seorang dhuafa yang tinggal di desa saya di Nguling, Pasuruan. Penentuan target penelitian awalnya mengalami kendala sebab ada banyak sekali kaum dhuafa yang ada di daerah Nguling, Pasuruan. Tujuan penelitian ini ialah mencari seseorang yang benar-benar patut untuk dikatakan kaum dhuafa. Setelah mempertimbangkan hal tersebut akhirnya saya memilih seorang dhuafa, ia bernama Bu Sugiati, yang hidup dengan anak dan cucunya di gubuk kecil. Keseharian Bu Sugiati hanya  menunggu atau menjaga kios kecilnya peninggalan suaminya yang telah tiada (Meninggal dunia). Ada seseorang yang memberikan beras kerumahnya, dengan kondisinya yang sudah selayaknya untuk bekerja. Ditengah kondisinya yang kekurangan mbah Nema masih tetap sholat,berdoa dan terus berdzikir kepada Allah SWT dengan pasti tujuan yang baik.
Saya berusaha menghibur Bu Sugiati dengan memberi motivasi serta semangat dan dukungan penuh untuk tetap menjalani kehidupan yang pahit ini .  Penghasilan yang di peroleh oleh Bu Suguati tergolong sangat rendah, yaitu Rp.25,000,00 setiap harinya , itu pun kalau kios beliau laris (banyak yang membeli). Kios Bu Sugiati hanya terisi beberapa bungkus rokok dan makanan ringan.
Terkadang setiap harinya ada tetangga yang membantu memberikan makanan kepada Bu Sugiati. Bu Sugiati sudah tidak mementingkan penampilan dan kebutuhan yang lain. Baju yang ia pakai setiap harinya adalah pemberian dari tetangganya. Bagian dalam rumahnya pun tidak terdapat barang yang berharga. Saya merasa kasihan terhadap kehidupan Bu Sugiati. Saya memberikan sedikit makanan yang tidak begitu mahal namun cukup berarti untuk Bu Sugiati , yaitu sarapan pagi untuk beliau.
Foto0297.jpg
Disini saya menemukan hal baru, bagaimana kehidupan seseorang yang benar-benar tidak mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan hanya menunggu kios yang kecil. Bu Sugiati. Terkadang Bu Sugiati mengeluh untuk hidup karena tidak bisa membahagiakan anak dan cucu nya. Tetapi beliau sadar dan tegar untuk menghadapi cobaan hidup ini . beliau yakin tidak selamanya seperti ini dan akan tetap berusaha dengan meminta kepada Allah SWT.
Harapan saya untuk jangka panjang adalah para mahasiswa bisa selalu memupuk rasa kepedulian terhadap orang-orang yang tidak mampu, tidak hanya dalam sebuah penelitian kaum dhuafa namun juga dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ada tindak lanjut dari kegiatan yang telah dilaksanakan saat ini dan dapat menjadi ikatan silaturahmi yang kuat.





Peneliti melakukan wawancara terhadap wanita tua yang hidup dengan anak dan cucu yang tidak mampu,  berada di Nguling Pasuruan. Dengan hasil wawancara sebagai berikut :


Saya                : Assalamualaikum buu
Ibu                   : Wa’alaikumsalam , siapa ya ? (dengan wajah bingung)
Saya                : Saya Ima bu, saya bermaksud kesini untuk silaturahmi dengan Ibu
 (Sambil mencium tangan Bu Sugiati)
Ibu                   :Monggo sampean masuk mbak, maaf rumahnya jelek. Hehee (sambil dipersilahkan duduk)
Saya                : Iya Ibu makasih. Ibu disini tinggal dengan siapa kalau boleh tau ?
Ibu                   : Saya nduk , disini tinggal sama anak dan cucu saya. Suami saya sudah gak ada (tiba-tiba muka beliau berubah menjadi sedih)
Saya                : Kalau boleh tau nama Ibu siapa ? (mengalihkan pembicaraan bermaksud ingin membuat beliau tidak sedih lagi)
Ibu                   : Ooh iya , nama saya Sugiati nduk
Saya                : Ibu Sugiati sekarang umur berapa ?
Ibu                   : (lama berpikir) saya lupa nduk, sekitar 56 itu.
Saya                : Waah Ibu awet muda hehe (sambil tertawa) . Sekarang Ibu bekerja sebagai apa ?
Ibu                   : Kamu bisa saja nduk. Saya sekarang Cuma jaga kios kecil di pojok situ (sambil nujuk ke kios).
Saya                : Kira-kira penghasilan Ibu setiap harinya berapa ?
Ibu                   : Gak terlalu banyak nduk, hanya sekitaran Rp25,000,00 .
Saya                : Tidak ada kerja sampingan Ibu ?
Ibu                   : Yo gak ada nduk. Paling kalau ada orang yang mau minta pijetin ke saya, saya pijetin tapi saya tidak minta upah . terkadang juga ada yang kasik upah ke saya. Saya ikhlas (dengan mencurahkan semua isi hati Ibu Sugiati).
Dari hasil wawancara di atas bisa disebutkan bahwa Bu Sugiati adalah seorang Kaum Dhu’afa. Apabila dilihat dari usianya, Bu Sugiati semestinya menikmati hari tuanya dengan anak cucunya. Namun, dikarenakan beliau harus membiayai anak dan cucu nya, Bu Sugiati berusaha untuk melakukan apa saja yang halal untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Bu Sugiati juga tidak termasuk orang yang bermalas-malasan seperti pengemis kebanyakannya. Bu Sugiati sudah menunjukkan jerih payahnya dengan menolong warga sekitar.
Segala perbuatan sosial yang berkaitan dengan kemasyarakatan yang dilakukan hendaklah mengutamakan saudara semua. Sehingga bisa diharapkan, manusia menjadi ummat yang unggul baik secara aqidah, ekonomi, pertahanan, dan lain sebagainya. Dari sinilah loyalitas terhadap ajaran agama menjadi tampak. Rasulullah bersabda :
“Tidak sempurna seseorang di antara kamu, sehingga dia mencintai saudaranya sama seperti mencintai dirinya sendiri.”
Hadist ini mengaitkan antara kesempurnaan iman dengan kecintaan terhadap sesama muslim. Bukan hanya sekedar ucapan cinta, tetapi lebih utama adalah pembuktian rasa cinta itu dalam kehidupan.
Misalnya dengan membantu meringankan beban hidup kaum Dhu’afa secara fisik maupun non fisik. Karena cinta tanpa bukti tak lebih dari fatamorgana dan hiasan bibir semata. Kepedulian kepada sesama muslim ini menjadi barometer sejauh mana kesempurnaan iman seorang muslim. Semakin peduli seorang muslim terhadap saudaranya, sejauh itu pula kesempurnaan imannya.
Dalam hidup bersama, manusia tidak hanya dikaitkan seperti mata rantai berkaitan satu sama lain. Manusia berhubungan satu sama lain dengan suatu perasaan dan sikap pribadi, yaitu dengan cinta kasih. Cinta kasihpun masih didampingi oleh berbagai sikap hati yang lain seperti kepercayaan dan harapan.
Kaum dhuafa tidaklah lemah dan inferior dalam pergaulan dan membuat hidup mereka terbelakang atau sebaliknya menjadi superior sehingga terjerumus ke dalam perbuatan yang merusak diri dan masa depannya, diperlukan keberadaan orang-orang yang dapat memberikan bimbingan dan pembinaan terhadap para kaum dhuafa. Sejak zaman Rosulullah bukan hanya memberikan jaminan sosial kepada kaum dhuafa untuk keperluan hidup di dunia, melainkan juga jaminan akhirat. Rasulullah telah memperlihatkan bagaimana islam memberikan perhatian yang besar terhadap nasib kaum dhuafa.
Dalam konteks pembangunan ekonomi ke depan, kaum dhu’afa dijadikan perhatian prioritas dari negara. Kehidupan ekonomi kaum dhu’afa sebagaimana sederhananya, sesungguhnya menjadi basis pertahanan yang strategis bagi negara dalam menghadapi kemungkinan krisis. Disamping itu, dinamika kehidupan ekonomi kaum dhu’afa relatif lebih sehat, humanis, komplementatif, dan jauh dari model-model kompetisi yang saling menegasi.
Oleh karena itu, ciri manusia sosial menurut islam ialah kepentingan pribadinya diletakkan dalam kerangka kesadaran akan kewajibannya sebagai mekhluk sosial. Kesetiakawanan dan cinta kasih inilah yang pernah dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya. Inilah ajaran iman dan amal shalih yang diajarkan oleh Rasulullah SAW berupa akhlak rabbani dan akhlak insani.






















BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kaum dhu’afa merupakan korban kekerasan negara. Kaum dhu’afa terdiri dari orang-orang yang terlantar, fakir miskin, anak-anak yatim dan orang cacat. Kaum dhu’afa adalah orang-orang yang menderita hidupnya secara sistematik. Para dhu’afa setiap hari berjuang melawan kemiskinan. Kaum dhu’afa menanggung beban hutang negara dengan membeli mahalnya minyak tanah dan sembako.
Kaum dhu’afa cerminan ketidakmampuan negara dalam memeliharanya. Para dhu’afa sendirian berjuang melawan sistem kapitalisme. Kaum dhu’afa merupakan orang-orang miskin yang ada di jalanan, di pinggiran dan di sudut-sudut lingkungan kumuh. Bekerja sebagai pemulung, pedagang asongan, pengemis jalanan, buruh bangunan, dan abang becak. Penderitaan dan penindasan yang dialami oleh para kaum dhu’afa menyebabkannya rentan terhadap penyakit menular dan ancaman bunuh diri.
5.2 Saran
Sebaiknya kita sebagai orang yang berkecukupan, harus lebih bersyukur dengan apa yang telah kita punya dengan selalu melihat orang-orang yang ada dibawah kita dalam hal materi.dan sebagai orang yang berkecukupan, kita harus membantu dan membagi sedikit apa yang kita punya untuk meringankan beban mereka.














DAFTAR PUSTAKA













LAMPIRAN
Transkrip Wawancara
Saya                : Assalamualaikum buu
Ibu                   : Wa’alaikumsalam , siapa ya ? (dengan wajah bingung)
Saya                : Saya Ima bu, saya bermaksud kesini untuk silaturahmi dengan Ibu
 (Sambil mencium tangan Bu Sugiati)
Ibu                   :Monggo sampean masuk mbak, maaf rumahnya jelek. Hehee (sambil dipersilahkan duduk)
Saya                : Iya Ibu makasih. Ibu disini tinggal dengan siapa kalau boleh tau ?
Ibu                   : Saya nduk , disini tinggal sama anak dan cucu saya. Suami saya sudah gak ada (tiba-tiba muka beliau berubah menjadi sedih)
Saya                : Kalau boleh tau nama Ibu siapa ? (mengalihkan pembicaraan bermaksud ingin membuat beliau tidak sedih lagi)
Ibu                   : Ooh iya , nama saya Sugiati nduk
Saya                : Ibu Sugiati sekarang umur berapa ?
Ibu                   : (lama berpikir) saya lupa nduk, sekitar 56 itu.
Saya                : Waah Ibu awet muda hehe (sambil tertawa) . Sekarang Ibu bekerja sebagai apa ?
Ibu                   : Kamu bisa saja nduk. Saya sekarang Cuma jaga kios kecil di pojok situ (sambil nujuk ke kios).
Saya                : Kira-kira penghasilan Ibu setiap harinya berapa ?
Ibu                   : Gak terlalu banyak nduk, hanya sekitaran Rp25,000,00 .
Saya                : Tidak ada kerja sampingan Ibu ?
Ibu                   : Yo gak ada nduk. Paling kalau ada orang yang mau minta pijetin ke saya, saya pijetin tapi saya tidak minta upah . terkadang juga ada yang kasik upah ke saya. Saya ikhlas (dengan mencurahkan semua isi hati Ibu Sugiati).



Foto Penelitian
Foto0297.jpg










Foto0296.jpg














Foto0295.jpg













Kekayaan tidak dilihat dari melimpahnya harta tetapi dari perasaan berpuas diri.
Lihatlah mereka yang lebih tidak beruntung daripada dirimu, sehingga kamu tidak mungkin tidak berpuas diri atas keberuntungan yang diberikan Allah kepadamu.